Eliminasi Resiko KDRT, Pemdes Padang Burnai Gelar Pelatihan PPA

oleh -5 views
Suasana pelatihan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Kantor Desa Padang Burnai.

BENGKULU SELATAN | PANDAWA98.COM — Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan kasus yang kerap mengundang dilema tersendiri. Di satu sisi, korban KDRT butuh keadilan, meski harus menempuh jalur hukum. Namun di lain sisi, upaya merengkuh keadilan itu bisa berdampak terancamnya keutuhan rumah tangga, apalagi kalau dilakukan dengan cara-cara kurang elegan.

Demikian dikatakan Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Bengkulu Selatan, Dodi Efendi, saat didaulat sebagai pemateri dalam Pelatihan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kantor Desa Padag Burnai, Kecamatan Bunga Mas, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, tadi pagi.

Di hadapan 20-an peserta, Dodi memaparkan pentingnya mengedepankan upaya preventif sebelum mengambil langkah represif (tindakan hukum) kepada para pelaku —umunya kaum laki-laki— sehingga efek jera tetap bisa tercipta tanpa harus menimbulkan dampak negatif, baik fisik maupun psikis.

“KDRT lebih banyak menempatkan kaum ibu-ibu sebagai korban. Tapi tidak jarang anak-anak juga bisa jadi korban, bisa secara langsung atau hanya terdampak. Kasus ini bisa dicegah dengan saling menghargai antarpasangan suami-istri, antara anak dan orang tua, antara yang berusia lebih tua dengan yang muda,” urainya.

Dodi mengingatkan, sudah ada regulasi khusus yang mengatur tindakan hukum terhadap pelaku KDRT. Sanksinya berupa pidana dan denda, keduanya akan berdampak kurang baik bagi rumah tangga. Dalam Undang Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, ada pasal menyebutkan sanksi pidana maksimal 10 tahun penjara dan denda.

“Jadi kalau ibu-ibu (korban KDRT-red) melaporkan suaminya ke penegak hukum, lalu diproses hingga jatuh vonis. Bisa dibayangkan berapa lama si suami tidak bisa memberi nafkah, apalagi kalau ditambah beban pembayaran denda. Sementara ibu masih mengharapkan rumah tangga normal kembali setelah itu, tentu menjadi beban cukup berat bagi pelaku dan korban,” bebernya.

Karenanya, Dodi menyarankan, mulai hari ini upaya preventif lebih diutamakan, agar KDRT tidak pernah terjadi dan situasi rumah tangga tetap harmonis sepanjang hayat.

Mewakili Kapolsek Manna, Bhabinkamtibmas Padang Burnai Brigpol Herwindo Siagian menambahkan, upaya perlindungan perempuan dan anak juga perlu dilakukan hingga ke lingkungan luar rumah, terutama terkait pembinaan anak-anak usia sekolah.

Baca Juga: Stimulasi Pertumbuhan Ekonomi Warga, Pemdes Padang Burnai Gelar Pelatihan KUBE

Dalam hal ini, terang dia, pergaulan anak di luar rumah perlu mendapat perhatian serius, mengingat makin gencarnya pergeseran peradaban era digital yang berpotensi menjadi “pembisik” anak-anak ke pergaulan bebas, mabuk-mabukan dan kebut-kebutan di jalan.

“Sudah banyak korban sia-sia di jalan daerah ini. Kita bicara data, umumnya mereka adalah anak-anak usia sekolah,” ungkap Siagian.

Aparat penegak hukum, lanjut dia, tentu memiliki keterbatasan, tidak bisa door to door mengawasi dan membina mereka. Di situlah peran orangtua dibutuhkan, agar anak-anak terhindar hal-hal negatif hingga membahayakan keselamatannya sendiri.

Sebelumnya, pemateri dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkulu Selatan, Lutiarti SH MH juga mengingatkan pencegahan kenakalan remaja adalah bagian upaya perlindungan anak yang tidak bisa dipandang remeh.

Pelatihan yang diselenggarakan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah Desa Padang Burnai ini, direncakan akan berlangsung hingga besok.

“Pemateri dari Pemerintah Kecamatan Bunga Mas akan mengisi pelatihan besok. Hari ini tiga pemateri dulu,” pungkas Kepala Desa Padang Burnai, Jamri M, melalui Ketua TPK Pemberdayaan, Novel Julaiki ST.[pd33]

top